Monday, January 1, 2018

Jumanji Versi Modern: Hmm... Agak Gimana Ya...


Hello, 2018! Happy New Year everybadehhhh....!!! Selamat menyambut tahun baru!

Semoga di tahun yang baru ini, semua kebaikan terus terjadi dan kita bisa terus bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik lewat segala ujian dan cobaan. AMINNNN!!!

So, kali ini gue mau coba review yang baru aja gue tonton, yaitu Jumanji: Welcome to the Jungle (2017). Soalnya, gue suka banget film pertamanya, Jumanji (1995). Otomatis waktu nonton film ini, gue langsung membandingkannya. Nah, seperti review pada umumnya, bakal ada spoiler-spoiler di tulisan ini. So, beware.

Menurut Wikipedia, film ini merupakan sekuel dari film pertamanya, karena mengambil latar waktu sesudahnya, yaitu tahun 1996 hingga sekarang.


Secara garis besar plot, film ini pun masih mengadaptasi plot film pertama. Yaitu, seorang anak menemukan board game Jumanji dan terjebak di permainan tersebut. Bedanya, kalau film pertamanya bentuk gamenya tradisional banget (board game), film yang ini bentuk gamenya modern (video games).

So, kita mulai aja review-nya:
1. More to action movie
Dibandingkan dengan film pertamanya yang penuh dengan petualangan, film versi modern ini lebih ke arah film action aja sih, menurut gue.
Jumanji 1995 VS Jumanji 2017
Menurut gue, itu karena di film pertamanya, para karakternya diceritakan nggak punya keahlian apa-apa. Mereka seperti kita aja, yang adalah warga jelata. Kalaupun mereka bisa mengalahkan musuhnya, itu karena mereka kepepet harus membela diri, makanya semua cara pun dilakukan. Yang nggak bisa, mau nggak mau jadi bisa.

Beda dengan film keduanya yang diceritakan masing-masing karakter memang punya keahlian. Ada yang jago bela diri, ada yang jago pengetahuan zoologi, ada yang jago baca peta, dan lainnya. Jadi meski mereka juga harus menyelamatkan diri dan sama-sama punya misi menuntaskan permainan Jumanji ini, taste-nya tetap beda. Malah menurut gue, sensasi adventurous-nya nggak terlalu kena. Ya karena itu. Udah punya keahlian, tinggal dimaksimalin aja.

2. Sosok Antagonis Van Pelt
Di kedua filmnya, ada sosok antagonis yang sama-sama dinamakan Van Pelt, meski kedua karakter ini ditokohkan dengan cara yang berbeda.

Buat gue, ini nggak masalah sih, dan bisa dimaklumi. Gue coba mengerti, mungkin sutradara/penulis skripnya nggak pengin penonton merasa bingung dengan kehadiran Van Pelt dari film pertama yang tiba-tiba muncul lagi di film kedua. Kalau hal itu beneran terjadi, mungkin malah bikin film ini jadi nggak make sense #sotoy

Nah, yang mau gue bahas di sini sebenernya soal kekuatan karakternya, karena jomplang banget. Di film pertama, tokoh Van Pelt itu bener-bener dibentuk sebagai tokoh yang ngeri banget. Gue aja sampe takut.

Van Pelt 1995 VS Van Pelt 2017
Dia bukan monster atau alien atau apalah yang bentuknya menyeramkan. Dia hanya orang biasa, yang berprofesi sebagai pemburu ulung yang nggak pernah melewatkan targetnya. Tapi meski begitu, dia bener-bener ngejer terus ke mana pun para karakter utama pergi. Jadi semacam merasa diteror gitu. Serem ye kannn....

Sedangkan di film keduanya ini, diceritakan Van Pelt-nya punya super power bisa mengontrol hewan-hewan yang ada di Jumanji, termasuk hewan buas. Trus, secara look juga dia agak nyeremin. Tapi yang terjadi, kok feel seremnya malah ga muncul ya? Cuma merasa dia itu jahat, tapi ya udah gitu aja. Ga gimana-gimana banget.

3. Kompleksitas Cerita

Jumanji 1995 VS Jumanji 2017
Film pertama Jumanji bisa dibilang punya cerita yang super kompleks. Intinya memang simpel, mereka harus menyelesaikan permainan. Tapi sepanjang proses itu, banyak banget rintangannya. Mulai dari karakter yang suka ilang-ilangan padahal harus lengkap 4 orang yang main, board game-nya yang tiba-tiba raib, rintangan yang harus diselesaikan masing-masing player, dikejer Van Pelt, sampai masalah keluarga.

Nah, hal ini sayangnya nggak terjadi di film keduanya. Di sini, mereka hanya harus menyelesaikan 3 rintangan, sambil sesekali dikejer Van Pelt. Itu pun mereka selalu stick together berempat dari awal sampe akhir, ga ada yang tiba-tiba menghilang. Hmm... jadinya datar aja kan ya.

Gue coba menelaah, apa mungkin durasinya yang nggak cukup? Ah, enggak juga ternyata.

Film pertama Jumanji berdurasi 104 menit, sedangkan film keduanya 119 menit. Itu berarti, film keduanya bahkan punya kuota durasi 15 menit lebih panjang dari film pertamanya. Jadi sebenernya, nggak ada alasan untuk bikin cerita ini jadi less complex karena terbentur durasi kan?

4. Jempol Buat Jack Black

Mungkin bisa dibilang, satu-satunya hal yang bikin gue terkesan dari film ini adalah aktingnya Jack Black.
Aktingnya kewlll
Agak mundur sedikit, para tokoh di dunia nyata kan ceritanya masuk ke dalam game Jumanji lewat video games. Nah, mereka menjelma sebagai karakter game yang sudah mereka pilih. Salah satu pemainnya yaitu Bethany, memilih karakter Prof. Sheldon, yang dalam dunia Jumanji diperankan oleh Jack Black.

Mari gue perjelas, Bethany itu ceritanya cewek. Sedangkan Prof. Sheldon yang dia pilih itu cowok. Otomatis, Jack Black sebagai Prof. Sheldon harus bergaya seperti cewek. Mulai nangkep kan maksudnyaaaaa?

Tapi yang gue acungi jempol adalah, Jack berhasil menampilkan sosok cowok yang fisiknya laki-laki tapi dalemnya perempuan, instead of bergaya seperti (maaf) bencong.

Jack nggak bergaya kemayu, yang jarinya sengaja dilentik-lentikin, atau pantatnya digoyang-goyangin, atau apalah.

Dia benar-benar berusaha menjadi cewek yang terjebak dalam tubuh laki-laki, meski aslinya dia beneran laki-laki. Hebat deh, menurut gue. Keren bingits!


OVERALL
Secara keseluruhan, film Jumanji: Welcome to the Jungle menurut gue dapat nilai 6 dari 10, karena Kevin Hart-nya lucu as usual. Dan, film ini banyak komedinya, since gue pencinta film komedi, Hihihi...

Kira-kira, itu review gue terhadap film ini. Kalau menurut kalian, film ini gimana? Tulis di kolom komentar, biar kita bisa saling tukar pikiran 😁

Ciao!

Foto:
Dok. Interscope Communications
Dok. Columbia Pictures

Sunday, August 13, 2017

Aga Kareba, Makassar?

Hollaaaa...

Berasa kayak band-band lagi konser keliling Indonesia, ya. Hahahaha..

Oktober 2016 lalu, gue dapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Makassar, Sulawesi Selatan. Gue sih super super super excited. Soalnya, untuk di Indonesia, gue ga pernah keluar Pulau Jawa selain ke Bali dan Belitung. Makanya, meski ini adalah bagian dari dinas kantor, gue langsung mengiyakan tanpa banyak ba bi bu. Tugas dari kantor adalah meliput konsernya kakak Afgan yang sedang promosi album Sides miliknya. Maka, berangkatlah gue bersama Kak Ichmosa Rachmat (Mamat) sang fotografer handal, beserta rekan majalah lain (yang masih satu grup) Kak Naomi.

Konsernya jam 7 malem di dalem Trans Studio Makassar, tapi kami diberangkatkannya subuh. Huff agak ngantuk yeesssss 😪😪😪
Tapi dengan begitu, kami jadi punya waktu untuk mengeksplor Makassar. Yeay!

Thank to Kak Naomi yang udah prepared banget soal list tujuan yang harus didatangi. Ternyata list dia nggak beda jauh sama hobi gue, yaitu MAKAN! Tujuan pertama adalah Pallu Basa yang ada di Jl. Serigala No. 54. Isinya beberapa potong daging sapi dengan kuah warna coklat yang kaya akan rempah. Kalau merasa kurang, bisa juga nambah nasi dan telur, kayak Kak Mamat. Hahahak!


Penampakan Pallu Basa
Dari sana, kami lanjut mencari Mie Titi Panakukang di Jl. Boulevard No. 25, Masale. Spot ini sebenernya request khusus dari Kak Mamat. Bahkan sejak di-announce bahwa dia akan berangkat ke Makassar bareng gue, doi udah bawel banget mau makan Mie Titi. Maklum, waktu itu istrinya lagi hamil. Tapi kok malah suaminya yang lebih rewel yak. Kezeeellll...

Lalu tak sengaja, lewat depan rumahmu ada moda transportasi (caelah bahasanya) yang nongkrong depan kami dan melirik minta dipanggil. Bentuknya unik banget. Kayak becak, tapi bermotor. Ternyata bener sis, namanya bentor → singkatan dari becak motor. Halah, kek orang Sunda deh, suka nyingkat-nyingkat.

Tadaaa... Ini dia penampilannya

Tampak depan
Uniknya, bentor ini bisa angkut sampai 3 penumpang sekaligus, beda dengan becak yang hanya bisa 2 orang. Loh, 1-nya lagi taro dimana kalau bisa bertiga? Tenang, dibonceng di belakang si abang. Ahay!

Juga, karena kendaraan bermotor, sang abang tetap mematuhi peraturan. Jadi, doi tetep pake helm. Hehehehe...

Wefie dulu dong sebelum berangkattttt
Begitu sampai, langsung Kak Mamat memesan dengan mantap, "Mie Titi yang besar 1 ya!" Ada rekomendasi menu lainnya, yaitu Nasi Goreng Merah. Gue kira merahnya itu karena pake cabe. Kalau iya, tentu gue tolak. Tapi kata sang penjual, "Nggak, kok. Itu saus khas Makassar. Bukan cabe, jadi tidak pedas." Hmm.. Leh uga nih. Tapi karena sebenernya masih kenyang, gue akhirnya sharing berdua sama Kak Naomi.

Mie Titi idaman Kak Mamat

Sang bapak ngidam
Nasi Goreng Merah
Soal rasa,
1. Mie Titi → ternyata kayak Ifu Mie biasa, hanya ukuran mie-nya lebih kecil dan teksturnya sedikit lebih halus. Tapi sisanya sama, yaitu disiram dengan daging dan sayur-sayuran.
2. Nasi Goreng Merah → pun ternyata ya rasa nasi goreng biasa. Tahu kan?

Kelar dari sana, kami harus segera balik ke hotel buat siap-siap karena mau dijemput sama tim Afgan buat ngeliput doi. Ingeeettttt.... Ini kerjaaaaaaa

Selesai byar byur byar byur, kami langsung dijemput dan di-drop di venue, di Trans Studio Makassar deh.

Wefie-wefie gemash dulu 
Ternyata nunggunya lama uga ya, sampe sore




Nih si kakak. Bonus buat para Afganisme

Kelar liputan, balik ke hotel. Begitu sampe, ternyata ada yang seru, gengs! Ada perayaan Halloween ala-ala gitu. Greeter hotelnya didandanin yang serem-serem saat malam.

Yang dandan seram yg paling kanan dan tengah ya. Sisanya mukanya emang gitu!

Eits... Ternyata nggak cuma greeter-nya aja. Masih ada seru-seruan di rooftop. Bisa icip-icip snack bertema Halloween, dance music, bahkan sulap dan tarot reader. Nggak mau ketinggalan, tentunya Kak Mamat dan gue nontonin sulap singkat-yang-hampir-failed dan tarot reading.

Snack berbentuk mata

Ga tau apaan tapi bentuknya lucu

Kue coklat yang unyu juga


Wefie sama kang sulap dan kang tarot. Tapi blur bingits
Lelah dengan perjalanan hari ini, kami pun bobok dan sayang besoknya kami sudah harus pulang.


OLEH-OLEH
Oiya! Kami sempat beli oleh-oleh. Menurut warga sekitar, oleh-oleh khas Makassar itu:
1. Kacang Rempah Cap Ayam → kacang disco gitu. Terkenal seantero Makassar.
2. Sambal khas Makassar → menurut emak gue yang cukup suka sambel, sambel ini pedes banget!
3. Minyak tawon → gue ga beli soalnya harganya agak mahal, dan ga tau kepake ga di rumah. Kata bapak driver yang menemani kami di sana, minyak tawon ada 2 macem. Ada yang tutupnya warna merah dan putih. Yang 1 bisa diminum, yang 1 obat gosok. Tapi yang mana, gue lupa ehehehe
4. Sirup markisa → ini gue agak bingung sih. Markisa bukannya yang terkenalnya dari Binjai, Sumatra ya? Tapi, gue tetep beli sih hahahaha

Soal lokasi pembeliannya, sebenernya item-item yang gue sebutkan di atas relatif mudah ditemukan di toko mana aja. Salah satunya, toko yang lokasinya deket sama hotel gue, Melia Makassar. Namanya Toko Sama Sama. Hahaha unik emang.

Atau, warga sekitar juga merekomendasikan untuk ke Jl. Somba Opu. Sepanjang jalan kenangan itu memang jualan oleh-oleh. Mulai dari makanan, minuman, obat, kerajinan, pakaian, semuanya dah!

Tapi menurut pendapat pribadi, harga beberapa barang di Somba Opu lebih mahal, setidaknya kalau dibandingkan dengan Toko Sama Sama. Mungkin karena daerah ini turistik banget, ya. Jadi ya dimaklumi.

So, bye Makassar! Sampai ketemu lagi! Ciao!

Sunday, August 6, 2017

Dia

Pengalaman saya memang tidak banyak
Tapi saya tahu pasti, dia cinta pertama saya
Walaupun si dia bukanlah pengalaman pertama saya

Dia memang punya daya tarik yang unik
Pesonanya bikin hati banyak orang terusik
Termasuk saya

Layaknya sebuah hubungan, seribu satu hal kami lalui
Manis, getir, konyol hingga sedih
Yang masuk akal hingga di luar nalar
Bukan kejutan, kata berpisah sempat terucap

Tapi kami tahu satu hal
Semua kegelisahan akan ada ujungnya
Proses ini yang membuat kami tumbuh bersama
Proses ini yang membuat kami menjadi orang yang kamu sapa hari ini

Namun, sayang seribu sayang
Hari itu pun tiba bagi saya
Semua yang berawal pasti ada akhirnya
Kami tak lagi bersama setelah sekian lama

Tanpa diduga
Ini bukan akhir segalanya
Ada yang tersisa

Rindu

Rindu meski pernah dibuat bercucuran peluh dan air mata
Rindu meski pernah diamuk kecewa
Rindu meski pernah dibangkitkan amarah

Saya rindu
Semua orang yang pernah dipikatnya juga rindu
Tak ada lagi rasa itu saat tak bersama dia

Saya ingin kembali
Hanya, tak mungkin

Hingga seorang bijak berujar:
Cinta pertama itu selalu di hati
Ia tak akan lari
Sayang, hari terus berganti
Hidup harus terus dijalani


"Nobody said it was easy. No one ever said it would be this hard" - C.


Sunday, July 30, 2017

Di Tengah Jalan

Seperti judulnya, yup, post ini melanjutkan perjalanan itinerary dari Semarang menuju kota tujuan selanjutnya yaitu Solo. Nah, on the way menuju Solo, kami sempat singgah di beberapa tempat, berhubung kami sewa mobil dari Semarang ke Solo.

Pemberhentian pertama adalah Pagoda Avalokitesvara (atau juga disebut Buddhagaya Watugong). Lokasinya masih di Semarang. Tapi kalau dari pusat kota tempat kiter-kiteran kami sih, jauh banget. Untung naik mobil ke sininya. Menurut Mas Wiki(pedia), alamatnya di Jl. Perintis Kemerdekaan, Pudakpayung, Banyumanik.


Seperti yang terlihat, ada pagoda yang GEDE BANGET. Karena tempat ini merupakan tempat ibadah, maka baiknya untuk tetap menjaga ketenangan. Jangan bawel.


Setiap sisi pagoda dikelilingi patung dewa-dewi

Bagian dalam pagoda
Ada patung Buddha raksasa di bagian belakang
Puas berkeliling, tentunya kami lapar lagi. Lanjut makan siang di Sate Sapi Pak Kempleng. Ternyata ada beberapa cabang. Kami makan di Sate Pak Kempleng 2.

Awalnya, kami siyok dengan harganya. Seporsi isi 10 tusuk, harganya Rp 45-50 ribu. Kami kira nggak bakal segitu. Maklum, bukan anak pasar jadi nggak ngerti juga itu harganya termasuk mahal, atau sebenernya wajar 😝 Begitu dicoba, rasanya ruar biasah! Ntap! Bahkan, kami nambah pesan Gulai Sapi. Hahahak!

Sate Sapi Pak Kempleng

Lanjut ke destinasi berikutnya yaitu Umbul Sidomukti. Selain bayar tiket masuk Rp 2 ribu per orang di awal, ternyata di dalamnya ada beberapa tempat wisata yang akan dikenakan biaya masuk lagi di masing-masing pos. Contohnya seperti kami yang masuk ke Goa Tirta Mulya. Bayar lagi Rp 5 ribu per orang.

Goa Tirta Mulya
Goa ini ternyata cukup dalam. Untuk orang yang nggak pernah masuk goa sebelumnya kayak gue, rasanya deg-deg ser banget. Takut kenapa-kenapa. Sebenernya ada lampu sih di beberapa tempat. Lampu neon kuning yang nyalanya juga kalau kepengen aja. Gini-gini nih, yang bikin ngeri. Gelap ye kan. Trus, ga tau di goanya ada apaan, sampe kapan nyampe ujung, trus di ujung ada apaan. Huff...

Btw ya, tebakan awal gue adalah di ujungnya bakal ada mata air atau apaan gitu, since nama goanya Tirta (yang artinya air). Eh, ternyata nggak ada.

Yang ada, justru pemandangan yang cakep bangetttttt... Kita di atas tebing, dan bisa liat hamparan gunung dan deretan pohon yang indah luar biasa #caelah
Pemandangan setelah keluar goa
Jalan baliknya, Ocha malah nagih minta difoto dalem goa

Kelar dari main-main goa, lanjut ke Susan Spa & Resort di Jalan Gintungan Utara, Dusun Piyoto, Jetis, Bandungan. Di bagian belakangnya, ada chapel yang Instagrammable banget. Keknya sih, memang sengaja dibangun untuk tempat pemberkatan pernikahan.

Tapi yak, jalanan menuju tempat ini agak syulit. Mana banyak menanjaknya lagi. Kebayang kan, pake heels trus nginjek conblok di jalan menanjak. Wadaw! Salut kalau nggak pengkor.
Tapi memang cakeps bingit yak!
Tampak samping
Nggak cuma ngintipin chapel-nya, kami juga cobain pijit di sana. Full body massage, harganya Rp 250 ribu (kalau ga salah ingat). Mantap banget pijitannya di badan yang uda renta ini. Cihuy-nya, begitu kelar, dikasih snack-nya berupa tape goreng dan temulawak. Lucu banget kan! Agak jarang ya, yang ngasih snack-nya begitu. Sedangkan Ocha pilihnya pisang goreng dan jahe hangat.

Sebelum massage

Muka beler sesudah massage

Pemberhentian selanjutnya yang juga jadi tempat singgah terakhir adalah Eling Bening. Waktu itu, masih baru banget. Bahkan, driver kami nggak tahu itu tempat apaan, sampe nyasar sana-sini. Soalnya, papan penunjuknya pun masih kurang banget. Cuma ditunjukin sekian ratus meter, trus tetiba ngilang. Tapi dengan niat dan usaha nanya-nanya orang mulu, sampailah kami di sana.

Karena masih baru banget, belum banyak yang bisa dieksplor. Hanya ada tempat makan, kolam renang (seperti yang terlihat di bawah), sama ayunan. Booooo.....

Eling Bening

Sekalian makan malam di sana, kami langsung lanjut perjalanan ke Solo, untuk langsung bobokkk. Selamat zzz...


Sebagian foto: Fransiska Soraya (Ocha)


Kelewatan trip kita dari awal? Jangan sedih, beb. Cek di sini, dan lanjut part 2-nya di sini.


Monday, February 13, 2017

Jangan Diet di Semarang! (Part 2)


Tadaaa... Perjalanan hari ke dua di Semarang siap berlanjut. Hal pertama yang kudu dilakukan adalah mandi. Buat kamu pecinta disko, pas banget kalau nginap di hotel inapan kami yaitu Ibis Budget Semarang. Nggak cuma menawarkan jaminan bersih saat mandi *yaeyalah*, shower kamar mandinya ada lampunya dan bisa berubah-ubah warna, lho. Saat air dingin yang dinyalakan, lampunya warna hijau. Tapi begitu airnya di-setting ke panas, lampunya jadi warna biru. Beuh! This shower-lamp is so swag! Harusnya nama hotelnya ganti aja, jadi Ibis Budget Disco Semarang. Tetep bisa disko mesti budget terbatas. Halah...
Percaya, kannnn....
Tujuan pertama hari ini adalah Klenteng Sam Poo Kong. Membaca dari beberapa blog, katanya lokasinya agak jauh. Mending naik taxi saja, ongkosnya nggak mahal kok, sekitar Rp.20rb. Ternyata betul. Kalau jalan kaki, timbunan sarapan tadi di hotel bisa berkurang banyak. Nggak terlalu lama, kami sudah sampai di klenteng ini. Tulisan segede-gede gaban *walaupun gaban itu aslinya nggak gede* siap menyambut kami. Kalau nggak salah, ada tiket masuk yang harus dibayar. Tapi aku lupa-lupa ingat sih, ada atau nggak. Kami pun segera masuk dan berfoto-foto ria di dalamnya.
 



 

Menurut sejarah, klenteng Sam Po Kong adalah bekas tempat pendaratan pertama Laksamana Tiongkok bernama Cheng Ho di daratan Jawa. Lebih akurat lagi, bila baca di sini.

Catatan penting:
Di bagian belakang tempat kami foto-foto, ada satu section lagi yang agak menjorok ke bawah. Nah, kami sempat mau masuk ke situ. Katanya sih, bedanya bagian ini dengan bagian depan adalah bagian belakang ini untuk sembahyang. Tapi, ada harga tiket masuk lagi yang harus dibayar. Kami sih, nggak jadi masuk. Terlepas dari kami pun sepertinya nggak akan sembahyang di sana, pandangan subjektif saya adalah agak aneh ya, sembahyang kok dimintai uang. Kalau di sana ada kotak dana yang uangnya digunakan untuk membiayai daily operational, lain lagi ceritanya. Tapi ini dimintai sebagai harga tiket masuk. Sekali lagi, ini adalah pandangan subjektif saya, dan saya nggak mau berpikir negatif terlalu lama. Makanya, kami pun memilih untuk melipir keluar. Tapi kalau ada yang fine-fine saja dengan hal tersebut, sok atuh.. Manggaa...

Matahari mulai terik, kami pun makin lapar. *sebenernya kalau soal lapar, kami nggak tergantung pada jam, cuaca, maupun musim, sih.* Kami pun manggil taxi dan menuju Toko Oen di Jl. Pemuda No. 52. Sesampainya di sana, Ocha langsung kegirangan dengan nuansa toko ini yang old skool namun tetap terjaga kelestariannya. Banyak foto jadul terpampang di sekeliling ruangan, yang bikin kami menebak-nebak bahwa merekalah generasi awal pendiri toko kue dan makanan fusion Belanda-Chinese-Indonesia.

Ingat dengan perut yang keroncongan, menu Bistik Lidah yang jadi rekomendasi sejuta blogger pun kami pesan. Ocha yang asyik bernostalgia dengan makanan Belanda pun memesan Huzarensla, yaitu salad daging khas Belanda. Selain itu, kami juga memesan Poffertjes sebagai side dish. Hasilnya, perut gue rasanya kek mo jatoh!
Kumpulan Santapan Siang
Kelar makan, tancap gas! Ke Lumpia Mbak Lien. Hahaha. Makan lagi! Lokasinya nggak jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki, sambil menurunkan isi perut. Posisinya di dalam gang. Yang jualan kokoh-kokoh berlogat Jawa lebih kental dari yang bukan kokoh-kokoh. Cuma pake etalage secuprit. "Di depan ada rumah makannya, kok. Kalau mau makan di sana, juga bisa," kata kokoh itu. Kami pun coba mengintip rumah makannya. Ternyata cukup besar. Nggak terbatas pada lumpia, mereka juga menjual nasi dan lauk. Bahkan, mereka berusaha menjadi one-stop-shopping-place dengan turut menjual bandeng Juwana yang menjadi oleh-oleh khas kota ini. Kami pun cuma lihat-lihat, nggak makan. Lebih ke malu sih, karena baru aja dari Toko Oen. Masa makan lagi?!

Beli 1 lumpia goreng aja dari si kokoh, soalnya saya penasaran kayak apa rasanya. Well, basically lumpia berisi sayur-sayuran dan potongan daging yang digoreng, lalu tersedia saus kental manis sebagai cocolan. Buat saya pribadi sih, ini bukan makanan favorit saya karena lidah saya nggak bisa nyambung dengan saus kental manis itu. Tapi kalau nggak pake sausnya, jadinya lumpia biasa aja, ya. Tapi saya nggak suka, gimana dongg... Sudahlah, cepat habiskan! Saking cepetnya ngabisin, nggak saya foto ;(((

Abis ini, beneran jalan-jalan lagi, kok. Ke area Kota Lama. Mengunjungi Gereja Blenduk. Gereja ini sebenarnya masih aktif, tapi waktu kami ke sana, sepertinya jam kebaktian sudah selesai makanya sudah tutup. Menurut beberapa web yang saya kunjungi, blenduk artinya kubah. Soalnya, bagian atas gereja ini berbentuk kubah dengan warna merah terracotta. Katanya juga, gereja ini adalah gereja Kristen tertua di Jawa Tengah.

Difoto dari seberang jalan. Nebeng dari depan Gd. Asuransi Jiwasraya
Berjalan menelusuri Kota Lama, tentunya sambil browsing ada apa lagi di area ini. Kami menemukan beberapa spot seperti Stasiun Tawang, Polder Air Tawang, dan Gedung Pabrik Rokok Praoe Lajar. Tapi karena kepanasan, kami hanya memandanginya saja sambil jalan-jalan keliling sambil mendapat seruan, "Ada mbak turis. Hello, good morning!" oleh beberapa ibu dan anaknya yang mengira kami bukan produk lokal. Karena iseng, saya pun jawab sambil senyum, "Bukan, tapi good afternoon," yang dibalas dengan kaget dan tawa oleh mereka.
Cuma berhasil foto ini
Karena puanasssss banget, kami sempat berteduh di salah satu cafe, namanya cafe Spiegel Bar & Bistro. Keinginan kami tentu yang dingin-dingin ajahhh.. Mata saya langsung tertuju ke gelato. Seharga 25rb bisa mix 2 rasa. Sedangkan Ocha pesen minuman bernama Caipiranha. Doi emang waktu itu abis dinas ke Brazil. Trus dapet minuman unik beginian. Pas nemu, tentunya girang kembali. Rasanya asem unik segar. Pas untuk cuaca yang sedang hot-hotnya kayak Pilkada 2017. Eitss.. Nggak lupa untuk foto di depan cafe ini, yaitu foto yang jadi penyapa postingan kali ini. Akreditasi diberikan kepada bapak satpam cafe ini yang pintar mencari angle.
Selesai nge-charge diri, kami menelusuri jalan lagi hingga menemukan 1 klenteng lagi. Nggak terlalu yakin sih, apakah ini Klenteng Tay Kak Sie atau bukan karena saya lupa. Yang saya ingat, waktu itu sedang ada permainan wayang Po Te Hi (wayang Cina) di sana. Saya baru pertama kali menontonnya secara live. Keliling-keliling klenteng, kami duduk lagi di sana. Sempat jalan ke Semawis sih, yang katanya sepanjang jalan menjual makanan saat sore-malam. Tapi sepertinya kami terlalu cepat sampenya. Jadi, abangnya bahkan baru angkat ketek buat memasang tenda. Alhasil, kami kembali ke area Simpang Lima aja karena list tujuan kami sudah habissss... Kali ini sudah lebih pintar cari makanan karena punya pengalaman kemarin *sombong*

O iya, oleh-oleh nggak ketinggalan. Kami beli bandeng dan sejumlah cemilan di Bandeng Juwana Elrina di Jl. Pandanaran No.57. Nggak lupa, kami juga ke Toko Kue Opium Brownies di Jl. Gajahmada No. 88. Lokasinya di ruko kecil, tepat di sebelah Veneta Isi ulang Printer dan JNE. Toko kue ini sebenernya milik temen mama daku. Jadi semacam kami ke sana pun untuk menjalankan titah dari mamak. Tapi terlepas dari itu, kue-kuenya memang enak. Kami juga pernah pesan untuk dipaketkan dari Semarang ke Jakarta. Jagoannya tentu brownies panggang. Tapi, aku juga suka oat cookies dan kue-kue lainnya. *promosi*

Beban makin berat, kami pulang naik taxi. Beruntung, kami dapat taxi yang driver-nya mau mengantarkan kami berkeliling ke sana-sini. Pengin ke Nasi Goreng Pak Karmin dan Soto Pak No, dua-duanya tutup. Syedihhhh... Kami pun direkomendasikan ke Nasi Ayam Bu Wido. Beuh, mantap! Lanjut diantarkan lagi ke Sate Ayam Pak HM Hasan. Busyet! Keknya nih bapak juga tukang makan kali, ye. Tahu banget makanan endolita gini. Tempat makannya lesehan di pinggir jalan. Sepanjang jalan, semuanya jualan sate. Tinggal dipilih deh, yang mana yang disuka. Si sate ayam ini ternyata lokasinya nggak jauh dari Toko Oen.
Nasi Ayam Bu Wido

Sate Ayam Pak HM Hasan
Kelar menyantap segudang sajian, kami minta ampuunnnn.. Pulangkan kami yang perutnya pada udah kek hamil ini. Setelah memberikan ucapan terima kasih, doa bertubi-tubi, dan tips ke bapak driver Blue Bird yang baik hati ini, kami pun dipulangkan ke Ibis Budget Disco Semarang buat disco lagi dan zzzz...

Sebagian foto: Fransiska Soraya (Ocha)

Kelewatan Part 1-nya? Jangan syediihh.. Klik di sini.